Jumat, 17 Mei 2013

Makalah Pengembangan Materi PAI , TASAWUF


TASAWUF
OLEH :
AHMAD SULAIMAN
PAI 3 SEM 4
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN SU

DAFTAR ISI
Daftar Isi   ..............................................................................................................    1
BAB I  ...................................................................................................................    2
Pendahuluan ..........................................................................................................    2
Latar Belakang  ......................................................................................................    2
BAB II   .................................................................................................................    3
Pembahasan  ..........................................................................................................    3
Pengertian Tasawuf  ..............................................................................................    3
Al Maqamat Dalam Tasawuf  ................................................................................    5
a)      Taubat  .......................................................................................................    7
b)      Sabar  .........................................................................................................    7
c)      Zuhud  .......................................................................................................    8
d)     Tawakkal ....................................................................................................    10
e)      Ridho  ........................................................................................................    12
BAB III  ................................................................................................................    14
Penutup   ................................................................................................................    14
Kesimpulan  ...........................................................................................................    14
Daftar Pustaka  ......................................................................................................    15



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kecenderungan kehidupan yang berlatar belakangkan teknologi dan informasi bukan saja menjadikan gaya kehidupan manusia ke arah materialistic-hedonistic tetapi juga menimbulkan rasa terancam dan kekacauan dalam masyarakat. Kehidupan manusia di penuhi kezaliman, kesedihan dan keruntuhan akhlak, seolah-olah tiada lagi harapan dan cinta dalam kehidupan ini.
Berdasarkan hal ini, modrenisme dilihat gagal memberikan kehidupan yang lebih bermakna dalam kehidupan manusia. Keadaan ini telah menimbulkan berbagai persoalan dalam masyarakat tentang apakah trend baru pula yang akan muncul pada hari esok?.
Dalam perjalanan sejarah spiritualisme Muslim, terlihat bahawa transendensi merupakan jalan ketuhanan spiritual para sufi. Ini kerana jalan itu dirasakan amat relevan dengan kehidupan. Dalam suasana transendensi, seorang sufi mengalami suasana realiti yang baru yaitu suatu kehidupan yang bebas dari hidup yang dipenuhi dengan kezaliman, ketamakan, dan sifat rakus .
Dengan menempuhi dunia spiritual ini, seseorang itu merasakan  hidup di alam kecintaan dan alam kemenangan. Bagi kelompok ini, realiti spiritual yang ditempuhi bukanlah sesuatu yang ilusi, tetapi benar-benar suatu realiti yang hanya dapat dinikmati sebagai sesuatu pengalaman keagamaan.



BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Tasawuf
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi islam yang memusatkan perhatian pada pemebersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoterik dari diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek fiqih, khususnya pada bab thaharoh yang memusatkan perhatian pada pembersiahan aspek jasmaniah atau lahiriah yang selanjutnya disebut sebgai dimensi eksoterik.[1]
Secara etimologi kalimat Tasawuf masuk dalam “babut-tafaul” dengan wazan tasawwufa, yatasawwufu, tasawwufan. “tasawwufar-rajulu” yakni seorang laki laki telah berpindah halnya daripada kehidupan biasa kepada kehidupan shufi.[2]
Masih banyak pendapat yang mengemukan asal kata dari kata tasawuf
a)      Ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kata Suffatul masjid yang artinya serambi masjid. Pendapat ini dihubungkan dengan kebiasaan orang orang  orang fakir islam yang selalu mengambil tempat di serambi mesjid  Madinah untuk meningkatkan amal dan menyempurnakan batin dan jiwa.
b)      Ulama lain berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata shaf yang artinya barisan dalam shalat. Hal ini dihubungkan dengan kebiasaan orang orang sufi yang selalu mengambil tempat di barisan (shaf) pertama pada setiap shalat berjamaah di masjid.
c)      Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa  kata tasawuf berasal dari kata shuf, artinya bulu domba. Hal ini dihubungkan dengan kebiasaan para sufi masa lalu yang selalu memakai kain wool (terbuat ari bulu domba) sebagai perlambang prinsip kehidupan mereka yang mengutamakan kesederhanaan dan menjauhi kemewahan.
d)     Sebagian lagi berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti kesucian, hal ini dihubungkan denngan kebiasaan dan prinsip hidup sufi yang senantiasa ingin suci, jauh dari bentuk yang haram, yang kotor, supaya dapat lebih dekat dengan sang Pencipta
e)      Jirji Zaidan mengatakan bahwa kata tasawuf dalam bahasa arab berkaitan erat dengan kata shofis = kebijaksanaan dalam bahasa Yunani. Dan umumnya kaum orientalist mendukung pendapat Jirji Zaidan ini dengan mengatakan bahwa ilmu tasawuf dalam dunia islam belum berkembang sebelum dimasuki pengaruh Filsafat Yunani. Tetapi pendapat Jirji Zaidan ini ditolak oleh Ibrahim Basyuni.[3]

Tasawuf mengandungi nilai-nilai spiritual yang tinggi. Ia berusaha membina dan membangun psikologi dan peribadi Islam melalui takhalliyyah al-nafs, tahalliyyah al-nafs dan tajalliyyah al-nafs. Tasawuf merupakan maqam dalam mencapai kejernihan, kebersihan dan kesucian hati (tazkiyah al-nafs). Apabila tasawuf dilaksanakan dengan sempurna maka ia boleh menghasilkan keperibadian Islam dan kesihatan mental. Maqam dan peringkat-peringkat perjalanan dalam tasawuf adalah seperti taubat, zuhud, sabar, tawakkal, ridha, mahabbah, khawf, tawaddu`, taqwa, ikhlas, shukr dan ma`rifah.
Dalam al Quran sendiri banyak ayat yang menyuruh untuk bertasawuf baik secara langsung maupun tidak langsung. Kata tasawuf dengan asal kata soffa (serambi) muncul 13 kali dalam al Quran dalam 11 surat, sedangkan kata tasawuf dengan asal kata sofaa ( suci) muncul 18 kali dalam 12 surat. Diantara ayat tersebut adalah Q. S an Namal ayat 59
{ قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلاَمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ }
Artinya
            Katakanlah Muhammad “segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hambanya yang dipilihNya apakah Allah yang lebih baik atau apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)[4]
            Ayat diatas memerintahkan nabi Muhammad SAW bahwa, katakanlah alhamdulillah atau segala puji bagi Allah dalams  segala keadaan dan situasi. Dialah penyandang Asmaul husna, nama nama terindah dan salam sejahtera atas hamba hambaNya yang dekat kepadaNya dan yang dipilihNya siapa, kapan, dan dimana pun berada, kecelakaan dan kemurkaan menimpa hamba hambaNya yng durhaka, kapan dan dimanapun.
Juga dalil al Quran yang menyuruh untuk bertasawuf secara tidak langsung dalam surat Fathir ayat 5
{ يٰأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَاةُ ٱلدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِٱللَّهِ ٱلْغَرُورُ }
Artinya  
            Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah[5]

            AL-MAQAMAT DALAM TASAWUF
Tazkiyyah al-nafs dalam tasawuf sering dikaitkan dengan penyucian jiwa, pembersihan hati, penjernihan dan pembeningan hati serta penyelarasan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Langkah tazkiyyah al-nafs ini boleh difahami sebagai suatu usaha integrasi diri dengan terjalinnya hubungan[6] baik antara individu dengan orang lain dan alam lingkungan seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dalam tasawuf, tazkiyyah al-nafs merupakan satu  metode untuk bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Tuhan melalui proses dan latihan-latihan rohani tertentu.
Tazkiyyah al-nafs adalah proses beralihnya jiwa yang kotor, ternoda dan tercemar menjadi jiwa yang suci lagi menyucikan, peralihan daripada keadaan yang tidak menurut syariat kepada keadaan yang menempati syariat, daripada hati yang kafir menjadi hati yang mukmin, dari munafik menuju sifat jujur, amanah dan fatanah, kebakhilan bertukar kepada pemurah, sifat dendam berganti dengan pemaaf, tawaddu`, tawakkal.
Kebersihan jiwa akan membawa kepada kondisi batiniah yang bebas daripada nilai-nilai negatif yang tergambar dalam tingkah laku. Tahap ukuran yang bebas daripada nilai-nilai negatif tersebut dicernakan melalui setiap perbuatan yang disukai dan dicintai oleh masyarakat sekeliling serta diridhai Allah SWT.
 Ajaran-ajaran sufi mengandungi proses, cara dan aplikasi nilai yang bertujuan untuk membersihkan diri sama ada secara zahir mahupun batin. Para sufi menyebutnya sebagai al-maqamat dan al-ahwal. Allah Ta’ala berfirman dalam surat al Isra’ ayat 79
{ وَمِنَ ٱلْلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً }
Artinya
“Pada malam, hendaklah engkau bertahajjud (berjaga untuk solat malam) sebagai tambahan untuk engkau, mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ke tempat terpuji.”[7]
Seseorang sufi yang menjalani proses al-maqamat ini akan merasa dekat dengan Tuhan dan hatinya menjadi tenang, tenteram dan damai. Al-maqamat juga ditakrifkan sebagai usaha pra-kondisional berupa amalan-amalan lahir dan batin, seperti tawbat, zuhud, sabar, tawakkal, mahabbah dan ma`rifah.Amalan-amalan itu kemudiannya dijadikan sufi sebagai maqam dalam tazkiyyah al-nafs.[8]
Terjadi polemik tentang tingkatan-tingkatan maqam menurut para sufi. Umpamanya al-Kalabadhi meletakkan urutan maqam sebagaimana di bawah ini: taubat, zuhud, sabar, faqir, tawaddu`, tawakkal, ridha, mahabbah, dan ma`rifah. Abu Nasr alSarraj al-Tusi menyebut dalam al-Luma` sebagai berikut: taubat, wara`, zuhud, faqir, sabar, tawakkal, ridha. Al-Ghazali dalam Ihya’ `Ulum al-Din menyebutkan: taubat, sabar, zuhud, tawakkal, dan ridha.[9] satu peringkat perjalanan kerohanian yang mempunyai peraturan-peraturan tertentu yang mesti ditaati agar selalu dekat dengan Tuhan, mendapat kecintaan dan keredaan daripadaNya.
Hasil daripada ketaatan-ketaatan seorang sufi dalam menjalani maqamat adalah kehidupan yang positif, terutamanya terhadap kondisi batin. Seorang sufi akan merasa khawuf (khuatir), tawaddu, taqwa (pemeliharaan diri), ikhlas (tidak mencampuri amalannya dengan nilai-nilai kebendaan selain Allah), syukur (berterima kasih kepada Tuhan), dan mutma’innah (ketenteraman) akan melahirkan integrasi diri, antara diri dengan orang lain dan diri dengan alam lingkungannya serta memperoleh perlindungan dan pengawalan (muhasabah) daripada Allah sebagai Pencipta.
Dengan arti lain, maqam didefinisikan sebagai suatu tahap adab (etika) kepadaNya dengan bermacam usaha diwujudkan untuk satu tujuan pencarian dan ukuran tugas masing-masing yang berada dalam tahapnya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadah (exercise) menuju kepadanya.[10]Seorang sufi tidak dibenarkan berpindah ke suatu maqam lain, kecuali setelah menyelesaikan syarat-syarat yang ada dalam maqam tersebut. Tahap-tahap atau tingkat-tingkat maqam ini bukannya berbentuk yang sama di antara ahli-ahli sufi, namun mereka bersependapat bahawa tahap permulaan bagi setiap maqam ialah taubat.
Rentetan amalan para sufi tersebut di atas akan memberi kesan kepada kondisi rohani yang disebut sebagai al-ahwal yang diperoleh secara intuitif dalam hati secara tidak langsung sebagai anugerah daripada Allah semata-mata, daripada rasa senang atau sedih, rindu atau benci, rasa takut atau sukacita, ketenangan atau kecemasan secara berlawanan dalam realiti dan pengalaman dan sebagainya. Al-Maqamat dan al-ahwal adalah dua bentuk kesinambungan yang bersambungan dan bertalian daripada kausaliti (sebab akibat) amalan-amalan melalui latihan-latihan (exersice) rohani. Ajaran sufi berkenaan maqamat dan ahwal memiliki hierarki yang tertib.
Para ahli sufi meletakkan tingkatan yang berbeda di antara satu sama lain yang mesti diikuti oleh seorang salik (pengikut ajaran tasawuf). Namun perbedaan itu tidaklah dijadikan suatu perdebatan di antara pengamal-pengamal ajaran tasawuf itu kerana mereka masing-masing memahami bahawa penentuan hierarki tersebut adalah berdasarkan pengalaman kesufian mereka tersendiri. Tingkatan maqamat yang popular di kalangan sufi adalah sebagai berikut:
1.      Taubat
Taubat merupakan tindakan permulaan dalam peraturan ajaran tasawuf.  Pada tahap taubat ini seorang sufi membersihkan dirinya (tazkiyyah al-nafs) daripada perilaku yang menimbulkan dosa dan rasa bersalah. Taubat itu sendiri mengandungi makna “kembali”; dia bertaubat berarti dia kembali. Jadi taubat adalah kembali daripada sesuatu yang dicela oleh Syara’ menuju sesuatu yang dipuji.
 Al-Junayd al-Baghdadi seorang ahli sufi  pernah ditanya tentang taubat. Dia menjawab: “Taubat adalah menghapuskan dosa seseorang.” Taubat menurut Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah  adalah “kembalinya seseorang hamba kepada Allah dengan meninggalkan jalan orang-orang yang dimurkai Tuhan dan jalan orang-orang yang tersesat. Dia tidak mudah memperolehinya kecuali dengan hidayah Allah agar dia mengikutisirat al-mustaqim (jalan yang lurus)”.[11]
            Al Ghazali mengklasifikasikan taubat itu kedalam tiga tingkatan
·         Meninggalkan kejahatan dalam segala bentuknya dan beralih pada kebaikan karena takut pada siksa Allah
·         Beralih dari suatu situasi yang sudah baik menuju situasi yang lebih baik, dalam tasawuf keadaan ini disebut inabah
·         Rasa penyesalan yang dilakukan semata mata karena ketaatan dan kecintaan kepada Allah, hal ini disebut aubah.[12]
2.      Sabar
Sabar oleh seorang sufi diartikan sebagai keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konskuen dalam pendirian, jijwanya tidak tergoyahkan, pendiriannya tidak goyah walau bagaimanapun beratnya yang dihadapi, pantang mundur dan tidak mudah menyerah, karena segala sesuatu itu terjadi adalah iradah tuhan dan mengandung ujian.[13]
Sabar bukanlah sesuatu yang harus diterima seadanya, bahkan sabar adalah usaha kesungguhan yang juga merupakan sifat Allah yang sangat mulia dan tinggi. Sabar ialah menahan diri dalam memikul sesuatu penderitaan baik dalam sesuatu perkara yang tidak diingini mahupun dalam kehilangan sesuatu yang disenangi. Menurut Imam Ahmad ibn Hanbal perkataan sabar disebut dalam al-Qur’an pada tujuh puluh tempat. Menurut ijma’ ulama’, sabar ini wajib dan merupakan sebahagian daripada shukr.[14] Sabar dalam pengertian bahasa adalah “menahan atau bertahan”. Jadi sabar sendiri adalah “menahandiri daripada rasa gelisah, cemas dan marah, menahan lidah daripada keluh  kesah serta menahan anggota tubuh daripada kekacauan”.
Seseorang yang berusaha memiliki sifat sabar adalah usaha bagi mempraktikkan “tarbiyyah al-ruhaniyyah” dengan meneladani sifat Rasulullah s.a.w yang ulu al-‘azmi. Tahap kesabaran dalam bentuk ketaatan adalah lebih tinggi derajatnya berbanding dengan kesabaran dalam menjauhi larangan Allah. Sabar dalam ketaatan memiliki makna esoterik yang radikal di mana di dalamnya tergambar kesungguhan dan teladan yang sangat disukai Allah SWT. Namun sabar dalam menjauhi laranganNya tidak kalah pentingnya kerana ia merupakan kemaslahatan yang akan menghiasi seseorang Muslim sehingga ia boleh meninggalkan pelbagai. Untuk mengklasifikasikan makna dan darjat kesabaran maka sabar dapat dibahagikan kepada tiga darjat iaitu:
i. sabar dalam menghindari kederhakaan dengan memerhatikanperingatan tetap teguh keimanan dan waspada hal yang haram dan menghindari kederhakaan kerana malu;
ii. sabar dalam ketaatan dengan menjaga ketaatan itu secara terus menerus, memeliharanya dengan keikhlasan dan berdasarkan ilmu;
iii. sabar dalam musibah dengan memperhatikan pahala yang baik,menunggu rahmat datang, menganggap musibah sebagai remeh dan menghitung nikmat-nikmat masa lampau.
3.      Zuhud
Secara terminologi zuhud ialah mengarahkan keinginan kepada Allah SWT, menyatukan kemauan kepadaNya dan sibuk denganNya berbanding kesibukan-kesibukan lainnya agar Allah memerhati dan memimpin seorang zahid.[15] Al-Junayd al-Baghdadi mengatakan: “Zuhud adalah ketika tangan tidak memiliki apa-apa pun dan pengosongan hati daripada cita-cita”. Di sini seorang sufi tidak memiliki sesuatu yang berharga melainkan Tuhan yang dirasakannya dekat dengan dirinya. Sebagaimana juga Yahya ibn Mu`adh menyatakan bahawa zuhud adalah meninggalkan apa yang mudah ditinggalkan.
Seorang sufi meninggalkan harta benda dan kemewahan duniawi untuk menuju Tuhan yang dicintai. Menurut Imam al-Ghazali bahawa hakikat zuhud adalah “meninggalkan sesuatu yang dikasihi dan berpaling daripadanya kepada sesuatu yang lain yang terlebih baik daripadanya kerana menginginkan sesuatu di dalam akhirat”.[16] Seiring dengan pernyataan al-Ghazali, Ibn Taymiyyah pula berkata bahawa zuhud itu bererti meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat.[17]
Kandungan zuhud membangkitkan semangat spiritual yang tinggi. Pengabdian serupa itu membawa zahid kepada ‘ubudiyyah yang sarat dengan muatan kecintaan dan keridhoan  Allah. Maka kebiasaannya seorang zahid menahan jiwanya daripada berbagai bentuk kenikmatan dan kelazatan hidup duniawi, menahan daripada dorongan nafsu yang berlebihan agar memperoleh kebahagiaan yang abadi.
Hasan al-Basri seorang tokoh sufi zaman awal Islam dalam suatu kesempatan mengatakan: “Jauhilah dunia ini kerana dia sebenarnya sama dengan ular, licin pada rasa tangan tetapi racunnya membunuh”.Zuhud sebenarnya bukanlah mengharamkan yang halal atau sebaliknya juga bukan membenci kekayaan duniawi tetapi ia menjadi perisai agar tidak terpesong dan menafikan hal-hal yang penting daripada Islam (menyimpang daripada ajaran Islam yang sebenarnya). Namun demikian persoalan zuhud tetap menampung perbedaan dalam satu kesatuan yang utuh dengan meletakkan posisi Rabb pada tempat yang tetap sebagai objek daripada kecintaan dan harapan keridhaanNya.
Zuhud dibedakan dalam tiga tingkatan
i. Zuhud shubhat
setelah meninggalkan yang haram kerana tidak menyukai celaan di mata Allah, tidak suka kepada kekurangan dan tidak suka bergabung dengan orang-orang fasiq. Zuhud dalam shubhatbermakna meninggalkan hal-hal yang meragukan, apakah sesuatu itu halal atau haram dalam pandangan zahid. Contohnya, shubhat  merupakan pembatas seperti kematian dan kehidupan sesudahnya yang menjadi pembatas antara dunia dan akhirat, kederhakaan yang menjadi pembatas antara iman dan kufur;
ii. Zuhud dalam perkara-perkara yang berlebihan
Sesuatu yang lebih daripada kelaziman dengan melepaskan kerisauan hati dan dengan mencontohi para nabi dan siddiqin. Contohnya teladan doa dalam aspek makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan lain-lainnya. Jika sufi memenuhi teladan ini untuk menambah kekuatan dalam melakukan hal yang dicintai dan diredai Allah dan menjauhi yang dimurkaiNya, maka itu dinamakan sebagai mengisi waktu sekalipun dia mendapat kenikmatan kerana menggunakan hal tersebut.
iii. Zuhud dalam zuhud
Dapat dilakukan dengan tiga cara menghina perbuatan zuhud, menyeimbangkan keadaan ketika mendapat dan meninggalkan sesuatu dan ingin memperoleh balasan. Orang yang memenuhi hatinya dengan kecintaan kepada Allah tidak layak melihat keduniaan yang ditinggalkannya sebagai suatu pengorbanan.33 Sebagaimana seorang sufi, oleh kerana kecintaannya kepada Allah, maka seorang ahli sufi beribadah dan meninggalkan perkara-perkara lain seperti kepentingan dan kemewahan dunia dengan tujuan untuk mencapai kecintaan Allah Ta’ala. Zuhud dalam realiti spiritual Islam menjadi rumpun dan asas yang kukuh.
4.      Tawakkal
Makna daripada tawakkal di sini adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan setelah berusaha bersungguh-sungguh. Secara harfiah tawakkal berarti bersandar atau mempercayai diri. Apabila dikembangkan etimologinya tawakkal bermakna mempercayai diri secara utuh tanpa keraguan. Namun tawakkal yang dimaksudkan dalam masalah ini adalah tawakkal yang disandarkan kepada agama Islam. Maka tawakkal itu adalah bersandar dan mempercayai dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. Tawakkal adalah kepercayaan dan penyerahan diri kepada takdir Allah dengan sepenuh jiwa dan raga.
Dalam tasawuf, tawakkal ditafsirkan sebagai suatu keadaan jiwa yang tetap berada selamanya dalam ketenangan dan ketenteraman baik dalam keadaan suka maupun duka. Dalam keadaan suka diri akan bersyukur dan dalam keadaan duka akan bersabar serta tidak resah dan gelisah.[18] Penyerahan diri kepada Allah SWT artinya menyerahkan segala urusan pada takdir Yang Maha Kuasa iaitu selepas seorang yang bertawakkal menjalani maqamat; taubat, zuhud, sabr. Seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan meyakini kekuasaan dan kekuatanNya sehingga ia tidak merasa cemas dan gelisah terhadap akibat apa pun yang menimpa dirinya.
Junaid berkata, “Tawakkal adalah bersandarnya mutiara- mutiara hati pada Allah dengan menghilangkan keinginan keinginan terhadap selain Dia”. Esensi tawakkal adalah menunggu sebab dari pemberi sebab, tanpa melihat kepada sebab, serta tanpa kegelisahan, kegalauan, kesusahan, kesedihan, dan kedukaan.[19] Permulaan tawakkal adalah kesadaran diri bahwa pengalaman pribadi individu tidaklah cukup untuk menemukan hakikat hidup karena rahasia hidup itu hanya diketahui oleh Allah SWT.
{ إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلاَّ هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَآ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ }
Artinya
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku, Tuhan kamu. Tidak ada sesuatu yang melata (di muka bumi), melainkan Dialah yang menguasainya. Sungguh Tuhanku di atas jalan yang lurus.”
Tawakkal adalah sebuah proses daripada perjalanan sufi dalam mendekatkan diri kepadaNya. Penyerahan diri secara benar kepada Tuhan, tidak lain adalah manifestasi daripada keimanan yang terwujud secara benar pula. Tawakkalseperti yang disebut dalam al-Qur’an di pelbagai tempat dan bentuk mampu membangun pemahaman kepada makna yang sesungguhnya. Untuk meluruskan pemahaman terhadap dimensi tawakkal ini para sufi mengemukakan beberapa ciri penting iaitu:
i. Tawakkal kepada Allah kerana untuk memperoleh keridoan hamba dan bahagian dunia, atau untuk menghilangkan hal ehwal yang tidak disukai dan musibah dunia.
ii. Tawakkal kepada Allah untuk menghasilkan apa yang dicintai dan diridhai Allah berupa keimanan, keyakinan, jihad dan dakwah kepadaNya.
iii. Menyerahkan diri kepada Allah seperti seorang yang menyerahkan kekuasaannya kepada wakilnya dalam sesuatu perkara setelah dia meyakini kebenaran, kejujuran dan kesungguhan orang itu dalam membelanya.
iv. Menyerahkan diri kepadaNya seperti anak kecil menyerahkan segala persoalan kepada ibunya;
v. Menyerahkan diri kepada Allah seperti mayat di tangan orang yang memandikannya.58
Namun begitu tawakkal bukanlah perkembangan daripada nilai fatalisme tetapi ia merupakan suatu kreativiti diri untuk berebut tujuan iman yang hakiki. Dengan demikian, tawakkal adalah realiti psikologi yang diaplikasikan setelah menjalani masa yang panjang menuju Tuhan. Orang bertawakkalakan merasa tenteram dengan janjiNya, merasa cukup dengan pemberian dan pengetahuan yang diberikan kepadanya dan dia juga akan merasa puas dengan kebijaksanaanNya.


5.       Ridha
Ridha adalah puncak daripada kecintaan yang diperoleh seorang sufi selepas menjalani proses ‘ubudiyyah yang panjang kepada Allah SWT. Ridha merupakan anugerah kebaikan yang diberikan Tuhan atas hambaNya daripada usahanya yang maksima dalam pengabdian dan munajat. Ridha juga merupakan manifestasi amal soleh sehingga memperoleh pahala daripada kebaikannya tersebut. Allah berfirman yang bermaksud:
“Allah redha terhadap mereka dan mereka pun redha terhadapnya.“Tidak ada balasan kebaikan kebaikan pula.”
Bagi al-Ghazali kelebihan ridha Allah SWT merupakan manifestasi daripada keridoan hamba. Ridha terikat dengan nilai penyerahan diri kepada Tuhan yang bergantung kepada usaha manusia dalam berhubungan dengan Tuhannya agar sentiasa dekat dengan Tuhannya. Syaikh Abu `Ali al-Daqqaq menyatakan bahawa seorang sufi tidak merasa terbeban dengan hukum dan qadar Allah Ta’ala.Ridha pada prinsipnya adalah kehormatan tertinggi bagi seorang individu sehingga ia dengan sengaja membuka dirinya kepada kebahagiaan di dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana’ ini. Ibn Khatib mengatakan: “ridha adalah tenangnya hati dengan ketetapan (takdir) Allah Ta’ala dan keserasian hati dengan sesuatu yang dijadikan Allah Ta’ala.”
Ketenangan hati seorang sufi yang berada dalam ridha membuahkan hasil keraguan, spekulasi diri dalam fantasi dan menerima takdir sebagai ketentuan Tuhan. Dan yang terpenting daripada ridha adalah tidak mengharapkan syurga dan tidak pula berlindung kepada Allah Ta’ala daripada seksa neraka. Allah menghuraikan tentang tentang ridha ini yang bermaksud:
{ يٰأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ } * { ٱرْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً } * { فَٱدْخُلِي فِي عِبَادِي وَٱدْخُلِي جَنَّتِي }
“Hai jiwa yang tenang kembali kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam syurgaKu.”
 Ada tiga derajat ridha
i. Ridha secara umum, yaitu ridha kepada Allah sebagai Rabb dan membenci ibadah kepada selainNya. Ridha kepada Allah sebagai Rabb ertinya tidak mengambil penolong selain Allah yang diserahkan kekuasaan untuk menangani dirinya dan menjadi tumpuan keperluannya;
ii. Ridha terhadap Allah. Dengan ridha inilah dibacakan ayat-ayat yang diturunkan. Ridha terhadap Allah meliputi ridha terhadap qadha dan qadarNya yang merupakan perjalanan orang-orang khawwas;
iii. Ridha dengan ridha Allah. Seorang hamba tidak melihat hak untuk ridha atau marah lalu mendorongnya untuk menyerahkan keputusan dan pilihan kepada Allah. Dia tidak mahu melakukannya sekalipun akan diceburkan ke dalam nyalaan api.
Seorang sufi yang membina dirinya dengan keridoan kepada Rabbnya mencapai kemanisan iman. Dia akan merasakan bahawa Tuhan dengan asma’ dan sifatNya, sentiasa memberikan makna bererti dalam berperilaku dan beramal. Setidak-tidaknya ada beberapa hal penting dalam membina keridhaan ke dalam diri yaitu:
i. Seorang sufi akan berada pada sisi hamba yang pasrah, ia akan menerima kepasrahan dengan kesempurnaan hikmah, rahmat dan kurnia;
ii. Terjadinya sesuatu adalah berdasarkan kehendak Tuhan semata-mata;
iii. Seorang sufi adalah seorang hamba yang menerima keputusan  Tuhannya dengan keridoan;
iv. Seorang sufi adalah seorang yang mencintai, ia berbuat apa saja untuk Kekasih yang dicintainya;  
v. Seorang sufi akan meyakini keridoannya terhadap keputusan Tuhannya dan ini akan memberikan reaksi positif bagi pengembangan dirinya;
vi. Seorang sufi merasakan terbukanya pintu-pintu keridoan menuju Tuhan yang kemudiannya melahirkan kegembiraan dan kenikmatan.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Di masa awal menjalani taswuf, calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka, tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya.
Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan. Pada stasion ridla, rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah, cinta Ilahi. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut, pertama, memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. Kedua, Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. Ketiga, Mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali dari Diri Yang Dikasihi.


DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata, Metodologi Studi Islam 2004. RajaGrapindo Persada : Jakarta.
Zahri, Mustafa Kunci Memahami Ilmu Tasawuf 1998. PT.   Bina Ilmu Surabaya,
Shihab, Quroish. Tafsir Al Misbah, Lentera hati, Jakarta, 2002
Purba,Hadis Akhlak Tasawuf 2012. Institut Agama Islam Sumatera Utara : Medan.
Departemen Agama Republik Indonesia Al Qur’an dan Terjemahnya Mahkota, Surabaya, Rajab, Khairunnas Jurnal Usuluddin UIN SUSKA, Riau,
Hawwa, Said Tarbiyah al-Ruhaniyyah Pustaka Mizan, Bandung1988,
Nasution,Harun Falsafat dan Mistisime dalam Islam. Pustaka Bulan Bintang Jakarta1993.
Al-Qusyairy al-Naisaburi, Imam Risalah Qusyairiyyah, (terj.) Lukman Hakim, Risalah Gusti,        Surabaya1999.
Jauziyyah, al-Qayyim al-Madarij al-Salikin Bain Manazil Iyyaka Na`bud wa Iyy Nasta`in,              (terj.) Kathur Sukardi Pustaka Al-Kautsar, Jakarta1998.
Al-Halabi, Qasim al-Sayr wa al-Suluk Ila Malik al-Muluk, Jakarta, Naskah Perpustakaan                Nasional Musium Pusat, No.CCCTX IV.
Jaya, Yahya Spiritualisasi Islam Dalam Menumbuhkembangkan Keperibadian dan Kesihatan
 Mental,  Pustaka Ruhama. Jakarta1994.
As Sulami, Abu Abdirahman Tasawuf Buat yang Pengen Tahu (terj Faisal Saleh) Erlangga,           Jakarta 2002.


[1] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam 2004. RajaGrapindo Persada : Jakarta. H. 283.
[2] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf 1998. PT.   Bina Ilmu Surabaya, h.  45.
[3] Hadis Purba, Akhlak Tasawuf 2012. Institut Agama Islam Sumatera Utara : Medan h. 23.
[4] Departemen Agama Republik Indonesia Al Qur’an dan Terjemahnya Mahkota, Surabaya, h. 538
[5] Ibid h. 616
[6] Khairunnas Rajab Jurnal Usuluddin UIN SUSKA, Riau, 2007, h. 1-28
[7] Departemen Agama Et.Al h. 396
[8] Said Hawwa Tarbiyah al-Ruhaniyyah Pustaka Mizan, Bandung1988, h. 79
[9] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisime dalam Islam. Pustaka Bulan Bintang Jakarta1993, h. 2.
[10] Imam al-Qusyairy al-Naisaburi, Risalah Qusyairiyyah, (terj.) Lukman Hakim, Risalah Gusti, Surabaya1999:, h. 23.
[11] al-Qayyim al- Jauziyyah, Madarij al-Salikin Bain Manazil Iyyaka Na`bud wa Iyyak Nasta`in, (terj.) Kathur Sukardi Pustaka Al-Kautsar, Jakarta1998:, h. 97.
[12] Ibid, Hadis Purba h. 46
[13] Ibid h. 47
[14] Ibid al Qayyim al Jauziyyahh. 203
[15] Ibid h. 41
[16] Qasim al-Halabi, al-Sayr wa al-Suluk Ila Malik al-Muluk, Jakarta, Naskah Perpustakaan Nasional Musium Pusat, No.CCCTX IV, h.88.
[17] Ibid al Qoyyim Al Jaujiziyyah h. 148
[18] Yahya Jaya, Spiritualisasi Islam Dalam Menumbuhkembangkan Keperibadian dan Kesihatan Mental,  Pustaka Ruhama. Jakarta1994, h. 169.

[19] Abu Abdirahman As Sulami Tasawuf Buat yang Pengen Tahu (terj Faisal Saleh) Erlangga, jakarta 2002. H.63.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar